Aceh Film Festival 2025 Resmi Ditutup, Sineas Muda Raih Apresiasi dan Penghargaan

OVI05352
Foto: Dok. Aceh Film Festival 2025

PM, BANDA ACEH – Rangkaian Aceh Film Festival (AFF) 2025 berakhir pada malam puncak Closing & Awarding Night yang digelar di Theater Library dan Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Sabtu (6/9) di Banda Aceh. Festival ini menjadi ajang perayaan kreativitas sineas muda, pelaku industri film, dan penikmat sinema dari berbagai daerah.

Mengusung tema “Stratagem” atau siasat, AFF 2025 menghadirkan pesan tentang strategi dan kreativitas seniman Aceh dalam berkarya di tengah keterbatasan. Tema tersebut, menurut panitia, tidak hanya simbol perjuangan, tetapi juga sumber inspirasi untuk terus berinovasi di dunia sinema. Festival ini terselenggara dengan dukungan Kementerian Kebudayaan.

Sejumlah tokoh hadir dalam malam penutupan, di antaranya Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal, serta Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Jamal. Turut hadir pula jajaran dewan juri: Philip Cheah, Sugar Nadia, Putra Hidayatullah, Putri Purnama Sugua, Sofia Setyorini, dan Fauzan Santa.

Direktur Festival, Jamaluddin Phonna, menyampaikan persiapan AFF telah dimulai sejak Juli dengan pelatihan programmer layar tancap di lima kabupaten: Aceh Besar, Pidie, Bireuen, Aceh Tengah, dan Lhokseumawe.

“Dari keseluruhan kabupaten ini, ada kurang lebih 8.000 penonton yang hadir pada kegiatan Gampong Film (layar tancap), dan banyak UMKM yang juga ikut meramaikan, sehingga kegiatan ini tidak hanya mengedukasi, tapi juga bisa meningkatkan ekonomi masyarakat. Selain itu, ada enam karya film dari pelajar Aceh yang ikut berpartisipasi pada Aceh Documentary Competition. Sedangkan untuk Internasional Film Competition ada 3.023 film dari 120 negara yang masuk ke Aceh Film Festival dan komite selektor kami memilih 23 film yang diputar dan bisa disaksikan oleh para penonton,” ujar Jamal.

Ia menambahkan, minat penonton di Aceh sangat tinggi meski fasilitas pemutaran film masih terbatas. “Sehingga besar harapannya kepada seluruh tamu yang hadir terutama para pemangku kebijakan yang ikut serta dalam kegiatan Aceh Film Festival ini bisa berpijak dan mendukung yang lebih kepada para penggiat film yang ada di Aceh, terkhususnya di kota Banda Aceh sebagai ibukota. Harapannya, kita di Banda Aceh bisa memiliki gedung film yang bisa menjadi tempat menonton, produksi, sehingga karya-karya para sineas Aceh memiliki tempat untuk ditayangkan. Karna film tidak semata hanya hiburan, namun juga ruang pengetahuan,” lanjutnya.

Selama lima hari penyelenggaraan, AFF 2025 menayangkan 36 film dari berbagai belahan dunia dengan total 2.500 penonton. Program festival meliputi International Documentary dan Fiction Film, NGOFI (Ngobrol Film), Nostalgiadengan pemutaran arsip film konflik Aceh, Aceh Documentary Competition, AFLAMU (film Timur Tengah dan diskusi), Layeu Aceh (eksebisi film sineas Aceh), hingga Balee Komunitas yang mempertemukan komunitas film se-Aceh.

Malam puncak ditutup dengan penyerahan penghargaan. Para pemenang utama antara lain:

  • Aceh Documentary Competition: Tarian Gajah (Sutradara Dhaifani – Aceh Tengah) dan Jojo (Sutradara Rina Maghfira S – Pidie)

  • International Documentary Film: Mama Jo (Sutradara Ineu Rahmawati – Indonesia)

  • International Fiction Film: Not Buried Yet (Sutradara Alkaseem Ahmad – Suriah)

Wamenkominfo Nezar Patria menilai AFF menjadi ajang penting dalam memperkaya ekosistem film nasional. “Meskipun saya baru hadir di penghujung acara, saya bisa merasakan vibesnya, Aceh Film Festival ini luar biasa. Dari karya film yang ditampilkan sangat menunjukkan keragaman dan kayanya kebudayaan daerah masing-masing. Saat ini sangat luar biasa untuk meningkatkan industri perfilman Indonesia seperti kita melihat film-film dari Syria, dibalik keterbatasan para sineas tersebut berhasil menciptakan karya yang dahsyat dan menakjubkan. Tentunya para sineas Indonesia juga pasti bisa melakukannya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal, menekankan AFF sebagai ruang kolaborasi. “Aceh Film Festival bukan sekedar festival tapi juga ruang kolaborasi dan meningkatkan solidaritas. Tema yang diusungkan berhasil yaitu siasat dalam berkarya di tengah keterbatasan serta strategi untuk terus berkembang. Melihat banyaknya partisipasi, menunjukkan bahwa Aceh sudah hadir di peta perfilman dunia,” katanya.

Sejak digelar pertama kali pada 2015, Aceh Film Festival terus berperan memajukan ekosistem film di Aceh sekaligus memperkenalkan karya sineas lokal ke panggung nasional dan internasional.

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait