Tari Ratoh Jaroe Menghentak Solo

IMG 6960
Ratusan pemuda terlibat sebagai penari dalam perhelatan Sansa Fest 2026, yang berlangsung di atrium utama Neo Solo Grand Mall, Surakarta. [Dok. Ist]

PM, Banda Aceh – Seni Aceh terbukti mampu menggugah minat banyak kalangan, bahkan jauh di luar provinsinya sendiri. Semangat itu terlihat dari kiprah Sanggar Aneuk Nanggroe Nusantara (SANSA) Community yang dalam beberapa tahun terakhir membina murid, siswa, dan pemuda di Surakarta, Jawa Tengah, untuk belajar tari Ratoh Jaroe.

Melalui latihan rutin dan kegiatan kolektif, ratusan anak muda yang sebagian besar bukan berasal dari Aceh, justru menemukan kedekatan baru dengan budaya tanah rencong.

Wujud dari minat para pemuda Solo ini terlihat dalam satu perhelatan besar yang digelar pada Sabtu (8 Februari 2026) pekan lalu. Hentakan serempak tangan dan tubuh ratusan penari menggema di atrium utama Neo Solo Grand Mall, Surakarta.

Tarian Aceh, Ratoh Jaroe, tampil bukan sekadar sebagai pertunjukan seni, melainkan sebagai energi kolektif yang menyatukan ratusan pemuda-pemudi dari berbagai sekolah di Jawa Tengah dalam satu ritme yang sama. Dalam suasana atrium yang dipenuhi penonton, setiap kelompok tampil dengan formasi duduk berderet, menepuk tangan dan dada secara ritmis, menghadirkan energi yang menghentak ruang publik Surakarta.

Acara tersebut mempertemukan lebih dari 320 peserta dari 21 tim tingkat SMP dan SMA sederajat. Mereka datang dari berbagai kota di sekitar Solo, sebagian besar bukan berasal dari Aceh, namun mampu menampilkan gerak Ratoh Jaroe dengan kekompakan yang mengundang perhatian pengunjung pusat perbelanjaan.

Pendiri Komunitas Sansa, Hasanul Muttaqin dalam keterangannya menyatakan, fenomena ini menunjukkan bahwa seni tradisi memiliki daya tarik universal.

“Kami hanya membuka ruang belajar. Tapi yang membuat Ratoh Jaroe hidup di Solo adalah semangat anak-anak muda di sini,” ujarnya.

“Harapan kami, semakin banyak generasi di luar Aceh yang mengenal dan mencintai tradisi ini.”

Kegiatan yang diinisiasi Sansa Community tersebut menjadi wadah kreativitas sekaligus penguatan karakter generasi muda melalui seni. Ratoh Jaroe dinilai mampu melatih fokus, kekompakan, serta menumbuhkan kecintaan terhadap budaya.

Tema yang diangkat, “Meusapat Ratoh Jaroe Meuseraya”, mencerminkan semangat gotong royong dan kebersamaan dalam tarian.

Sejak dikenalkan oleh mahasiswa asal Aceh sekitar 2015, Ratoh Jaroe perlahan berkembang di Surakarta. Pada 2016, sejumlah sekolah mulai menjadikannya kegiatan ekstrakurikuler. Kini, lebih dari 30 lembaga pendidikan di wilayah Solo Raya tercatat menjadikan tarian tersebut sebagai kegiatan rutin.

Puncak acara berlangsung saat flashmob massal yang melibatkan ratusan penari. Dalam satu komando, tangan-tangan bergerak serempak, menciptakan irama yang menggema dan mengundang decak kagum penonton. Hentakan yang identik dengan panggung kesenian Aceh, sore itu terasa hidup di tengah kota budaya Jawa.

Selain lomba utama, acara juga dimeriahkan penampilan tamu seperti Rapai Geleng serta sambutan tokoh masyarakat. Bagi para peserta, Ratoh Jaroe bukan sekadar lomba, melainkan pengalaman budaya yang mempertemukan mereka dengan tradisi dari wilayah yang jauh.

“Kalau seni Aceh bisa hidup di Solo, artinya budaya ini punya masa depan yang panjang,” kata Hasanul.

“Kami ingin ini bukan sekadar pertunjukan, tapi jembatan kebudayaan yang menyatukan banyak daerah.”

Ketika ratusan penari menutup acara dengan gerak serentak, tepuk tangan penonton menggema panjang. Di Surakarta, jauh dari tanah rencong, Ratoh Jaroe menjelma bahasa gerak yang menembus batas daerah, menyatukan generasi muda dalam satu irama kebersamaan. []

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait