Wisata kamping tenda di tepi Danau Lut Tawar, Aceh Tengah. (Foto Zikri)
Wisata kamping tenda di tepi Danau Lut Tawar, Aceh Tengah. (Foto Zikri)

Siapa yang tak kenal alam pegunungan Takengon, Aceh Tengah? Kesejukannya seakan punya ciri khas tersendiri bagi setiap pengunjung. Apalagi, kesejukan itu telah melahirkan sebuah resam bagi masyarakat setempat dengan menghadirkan tungku, sebuah pengapian.

Tungku lazimnya hadir di rumah-rumah penduduk Gayo, Aceh Tengah. Tungku hadir sebagai pengapian untuk mengusir hawa sejuk. Secara tradisi, tungku mengambil posisi di tengah-tengah keluarga. Namun, tungku di tepi Danau Lut Tawar hadir di tengah-tengah para peserta kamping 100 tenda. Kondisi alam pegunungan ditambah tiupan bayu dari celah daun-daun kopi membuat masyarakat di sana terbiasa dengan tungku.

Malam itu, Sabtu (03/10/2015) tungku mengambil alih perhatian seratusan orang di tepi Danau Lut Tawar. Danau ini merupakan satu-satunya danau di daerah Gayo dan mungkin di Aceh. Seperti namanya, danau ini terdapat di tepi Laut Tawar sehingga masyarakat setempat memberi nama Danau Lut tawar.

Lihat Juga: [FOTO] Menikmati Panorama Danau Lut Tawar

Malam minggu pertama di awal Oktober 2015 itu, 100 tenda berjejer dan berjajar di bukit kecil tepi Danau Lut Tawar. Tentu saja itu bukan tenda permanen, melainkan sebuah perhelatan yang digelar oleh sekelompok orang yang cinta lingkungan.

“Kegiatan ini diselenggarakan oleh Aliansi Gayo di Atas Awan dan Cerita Pribumi. Tujuan kami hanya sebagai silaturrahmi sesama sekaligus sebagai aksi cinta lingkungan dengan kawan-kawan di Aceh,” ujar Jaka Zulham, salah seorang pemilik tenda.

Kegiatan yang digagas untuk memperkokoh hubungan silaturrahmi itu diberi tema “Kamping Bareng 100 Tenda di Ujung Nunang Lut Tawar.” Selain sebagai memperkuat silaturrahmi, kata Jaka, kegiatan tersebut juga sebagai ajang memperkenalkan objek wisata di tanah Gayo, khususnya Danau Lut Tawar.

Traveling camping tenda di pinggiran danau Lut Tawar, kawasan jalan Bintang, Aceh Tengah. (Foto Zikri)
Traveling camping tenda di pinggiran danau Lut Tawar, kawasan jalan Bintang, Aceh Tengah. (Foto Zikri)

Melalui Jaka, ketua pelaksana kegiatan, Ridwansyah alias Birah Panyang berharap kegiatan ini bisa berlangsung kontinyu, bertahap, dan berkesinambungan. “Paling tidak minimal setiap tahun ada barang sekali dengan konsep yang lebih inovatif dan lebih baik,” ujarnya.

Ditanya kenapa harus di Lut Tawar, ia mengakui sebenarnya masih banyak objek wisata di dataran tinggi Gayo. Namun, kegiatan 100 tenda itu sengaja mengambil posisi di tepi Lut Tawar sebagai bentuk pengenalan awal terhadap kegiatan kamping tersebut sekaligus ingin memperkenalkan lebih dekat tentang suasana dan panorama Danau Lut Tawar kepada publik.

“Ke depan mungkin kegiatan ini akan dilakukan di gunung atau di tempat lain. Bisa saja di tepi sungai pula atau tempat-tempat menarik lainnya. Di sini ‘kan memang banyak objek wisata alam,” tuturnya.

Baca Juga: Bener Meriah Punya TVC Terbaru untuk Angkat Potensi Wisata

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari (3-4 Oktober) itu berjalan apa adanya tanpa ada kegiatan seremonial. Bagi panitia dan peserta, kegiatan tersebut adalah sukarela dan milik bersama sehingga tak perlu ada ceramah pembuka atau pidato penutupan.

Siapa saja boleh ikut kegiatan tersebut, dengan ketentuan memiliki tenda sendiri. Namun, panitia meminta sumbangan bagi setiap yang mau berpartisipasi. Untuk satu orang dikenakan Rp50 ribu, sedangkan bagi yang membawa keluarga dibebankan Rp100 ribu per keluarga.

Sumbangan tersebut dikutip untuk kebutuhan konsumsi para peserta 100 tenda selama kegiatan. Karena itu, sudah sewajarnya para peserta mendapat suguhan makan malam khas gayo seperti masam jing. Pagi esoknya, para peserta juga disediakan sarapan bersama. Yang tidak ketinggalan selama kegiatan itu tentunya kopi khas gayo.

Menikmati Panorama Danau Lut Tawar di tengah malam yang syahdu. (Foto Zikri)
Menikmati Panorama Danau Lut Tawar di tengah malam yang syahdu. (Foto Zikri)

SEMANGAT KE-GAYO-AN

Kegiatan kamping 100 tenda di tepi Danau Lut Tawar muncul karena semangat ke-Gayo-an para pecinta alam dari Tanoh Gayo. Hal itu tampak pada tujuan kegiatan. Seperti dikutip dari blog cerita pribumi, kegiatan 100 tenda tersebut dilengkapi dengan diskusi untuk kemajuan Gayo ke depan.

Kegiatan tersebut juga dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di samping itu, 100 tenda di tepi Danau Lut Tawar diisi dengan sejumlah kegiatan silaturrahmi sambil mendengarkan nyanyian khas Gayo sembari menikmati kesejukan alam dan kopi gayo tentunya.

Baca Juga: Perantau Aceh Diajak Promosikan Wisata dan Kopi

Semangat ke-Gayo-an inilah yang membuat acara tersebut tidak hanya diikuti kalangan pecinta alam dari Gayo, tetapi juga sejumlah masyarakat setempat, termasuk beberapa orang yang sudah usia lanjut. Kendati malamnya hujan sempat mengguyur Tanoh Gayo hingga pukul 23.30, para peserta 100 tenda tetap semangat.[]

Komentar