partai aceh

Lhokseumawe—Partai Aceh mengutuk keras aksi penembakan yang menyebabkan tewasnya Sukri Abdullah alias Pang Kuek, 35,  dan temannya, Cut Yetti Indra, 39. PA juga merasa kehilangan kader terbaiknya.

“Kami mengutuk keras aksi penembakan di Kabupaten Bireuen. Kami juga sangat kehilangan atas meninggalnya Sukri Abdullah,” kata Jurubicara DPA Partai Aceh Fachrul Razi di Banda Aceh, Rabu (16/5).

Menurut Fachrul Razi, Sukri memiliki kontribusi besar dalam memenangkan pasangan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf sebagai Gubernur/Wakil Gubernur Aceh pada Pilkada 9 April 2012.

Untuk itu, ia meminta aparat kepolisian mengusut kasus tersebut sampai tuntas dan segera menangkap pelaku penembakan yang mengakibatkan hilangnya nyawa kader Partai Aceh. “Sukri adalah sosok yang loyalitas terhadap Partai Aceh, dan berkontribusi dalam perdamaian serta bagi kemenangan pasangan yang diusung partai pada pilkada lalu,” kata Fachrul Razi.

Penegakan hukum dan untuk sebuah perdamaian, kata dia, diperlukan melalui upaya pihak berwajib mengusut kasus penembakan terhadap kader Partai Aceh itu.

Jasad Syukri Abdullah alias Pang Kuek, korban tewas dalam pemberondongan di Paya Rangkuluh, Kuta Blang, Bireuen, disemayamkan di rumah duka  di Desa Panggoi Bawah, Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Sejak pagi, ratusan pelawat memadati rumah duka, Rabu (16/5). Bahkan jalan negara di depan rumah korban terlihat macet karena ramainya pelayat.

Kesedihan dan isak tangis tak dapat dibendung oleh istri dan keluarga saat jenazah tiba di rumahnya. Sekitar pukul 10.30 WIB, jenazah dibawa ke komplek kuburan Desa Panggoi untuk dikebumikan.

Dari keterangan kerabat yang melayat, almarhum semasa hidupnya memegang jabatan sebagai sekretaris DPW Partai Aceh Lhokseumawe. Pang Keuk juga menjabat Panglima Sagoe GAM Cot Kupula Daerah 1 Tgk Cik Di Paloh Wilayah Pase. Almarhum meninggalkan seorang istri Alwijah, 33, dan dua anak, Munira, 11, dan Noval yang masih berusia 1,5 tahun.

“Almarhum ke Banda Aceh berencana mengikuti acara peusijuk. Kami berangkat dari Lhokseumawe pada Sabtu (12/5) malam menggunakan dua unit mobil. Almarhum Pang Kuek naik mobil sendiri bersama dua teman lainnya,” kata Saiful, kerabat korban.

Pihaknya kemudian bertemu Pang Kuek di Banda Aceh.  “Tetapi kami tidak jadi mengikuti acara kenduri di Kabupaten Nagan Raya.  Pada Senin (14/5), kami pergi berziarah ke makam Wali Nanggroe di Indrapuri,” katanya.

Menurut Saiful, dirinya dan kawan-kawan lain pulang lebih awal satu hari.  Sementara Pang Kuek menunggu rekan kerja lamanya yakni Cut Yetti dan pulang bersamaan.

Semasa hidupnya, menurut pengakuan sejumlah pelayat, Syukri dikenal dekat dengan masyarakat. Bahkan tak jarang membantu warga yang sedang kesusahan jika dirinya sedang punya uang. Semasa hidupnya, Pang Keuk juga dinilai tidak punya perselisihan dalam masyarakat di desanya.

Tentang TM Yasir

Semntara Teuku Muhammad Yasir, 16, korban selamat dalam mobil Honda CRV BK 1808 JE merupakan warga Desa Blang Seupeung, Pekan Baro, Pidie Jaya. Ia merupakan saksi kunci dalam peristiwa pemberondongan Paya Reungkueh, Kuta Blang, Bireuen.

Berdasarkan informasi yang didapat, ayah kandung TM Yasir adalah T Luthan bin T Agam Ubit, 50. TM Yasir yang sering disapa Popon merupakan putra kedua dari lima bersaudara, buah perkawinan dengan T Luthan-Cut Roslina.

Popon kini masih tercatat sebagai siswa kelas III SMPLB (Sekolah Menengah Pendidikan Luar Biasa) di Bambi, Kecamatan Peukan Baro, Pidie. Ia memiliki keterbelakangan mental sejak kecil, namun ia tak pernah membangkang, bahkan ia rajin serta suka bergaul dengan teman sebanyanya di kampung.

Menurut T Luthan yang sempat ditemui oleh wartawan di Bireuen, saat kepergian, malam itu Popon tidak pamit. Bahkan kepergian Popon diketahui pihak keluarga setelah shalat subuh, Rabu (16/5) pagi.

Awalnya, Popon diketahui pergi bersama Cut Miranda, adik sepupunya. Lalu, apa hubungannya dengan Cut Yatty? Teka-teki ini hingga kini belum terjawab.[jon/wnd]

Komentar