Ilustrasi. (inilah.com)

Dalam salah satu perintah Allah yang harus disampaikan Nabi Yahya kepada umatnya (Bani Israil) yakni, “Allah memerintahkan kalian untuk berzikir dengan banyak mengingat Allah, karena sesungguhnya perumpamaan hal ini seperti keadaan seorang lelaki yang dikejar-kejar musuh yang memburunya dengan cepat dari belakang. Kemudian lelaki itu sampai ke suatu benteng, lalu ia berlindung di dalam benteng itu (dari kejaran musuhnya). Sesungguhnya tempat yang paling kuat bagi seorang hamba untuk melindungi dirinya dari setan ialah bila ia selalu dalam keadaan berzikir mengingat Allah SWT.” (H.R. Hakim).

Zikir merupakan Hisnul Mukmin (benteng seorang Mukmin) dari kekuatan-kekuatan di luar dirinya, terutama sekali kekuatan iblis yang nyata dan benar-benar ada walaupun tidak kasat mata. Orang yang banyak berzikir (mengingat Allah) akan diingat oleh Allah dan semakin dekat dengan-Nya sehingga akan mendapat perlindungan-Nya.

Abu Hurairah pernah meriwayatkan hadits qudsi yang menyebutkan, “Aku berada dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku dalam perkumpulan, Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, Aku mendatanginya dalam keadaan berlari.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Mengingat Allah dan diingat oleh Allah akan membuat hati seseorang menjadi tenteram, Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman yang hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram. Dan orang yang hatinya tenteram adalah orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. (QS. Al Ra’d [13]: 28-29).

Kedua ayat ini memberikan gambaran kepada kita bahwa hakikat dzikrullah (mengingat Allah) bukan hanya menyebut nama Allah di lisan, melainkan juga harus diikuti dengan keimanan dan amal saleh.

Artinya, orang yang berzikir (mengingat Allah) harus yakin bahwa Allah selalu hadir dan memantau semua perbuatannya. Bahkan, pemantauan ini tidak hanya secara lahir, tetapi juga secara batin (motif dan tujuan) dari perbuatan tersebut.

Dengan adanya keyakinan akan pemantauan seperti ini, seseorang akan selalu mawas diri agar tidak terjerumus pada hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah SWT.

Zikir seperti ini yang akan menuntun seseorang menjadi manusia beriman dan rajin beramal saleh, karena sebelum merasa dilihat oleh orang lain, ia telah meyakini bahwa ia sedang dan selalu diawasi oleh Allah SWT.

Orang seperti inilah yang apabila disebut nama Allah akan gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. (Q.S. Al-Anfal [8]: 2). Semoga kita termasuk bagian dari mereka. Aamin.

Sumber: Republika

Komentar