Menteri Agama kunker ke Aceh.
Menteri Agama.

PM, Banda Aceh – Menteri Agama Republik Indonesia Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi telah menyelesaikan kunjungan kerja di Aceh, pada 14 Desember lalu. Fachrul Razi  berkunjung ke daerah berjuluk Serambi Mekkah ini terhitung 10-14 Desember 2020.

Menag bersama Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama Anni Sulistiowati Fachrul Razi mendarat di Bandara Malikussaleh, dan mengawali kunjungan kerjanya di Kota Lhokseumawe.

Selama tiga hari di Kota Petro Dolar Menag meresmikan tiga gedung IAIN Lhokseumawe, bersilaturrahmi ke Pesantren Modern Misbahul Ulum, dan bertemu dengan pemerintah daerah dan pengurus Masjid Islamic Centre.

Kemudian, Menag menuju Aceh Utara untuk memberikan bantuan bagi satuan kerja yang terdampak banjir di Lhoksukon. Sebelum bertolak ke Banda Aceh, Menag menyempatkan diri bertemu dengan tokoh masyarakat dan pemerintah Kabupaten Bireuen, dan silaturrahmi ke Dayah Mudi Mesra, Samalanga.

Selanjutnya Menag melanjutkan kunjungan kerja di Banda Aceh. Di ibu kota Aceh itu, Menag menghadiri sejumlah kegiatan antara lain, membuka kegiatan dialog kerukunan “Kita Cinta Aceh,” bertemu para rektor PTKIN Aceh, menyerahkan bantuan untuk Masjid Munawwarah Punge, pembinaan ASN UIN Ar-Raniry, meninjau BDK Aceh, dan ziarah ke kuburan massal Tsunami Aceh di Siron Aceh Besar.

Di setiap kunjungan kerjanya, Fachrul mengatakan, sebagai negara yang kaya dengan keberagaman, maka masyarakat harus menjunjung tinggi moderasi beragama.

“Moderasi beragama bukan agamanya yang dimoderatkan, melainkan cara kita beragama yang dimoderatkan,” kata Fachrul.

Ia mengatakan, kerukunan umat beragama bisa tercipta jika antar umat beragama memiliki rasa saling menghargai antar umat beragama.

“Semua pemeluk agama berhak dan seharusnya berpandangan bahwa  agamanya adalah agama yang paling baik, namun sebaliknya setiap pemeluk agama juga harus menghargai hak pemeluk agama yang lain yang mereka juga memiliki pandangan yang sama bahwa agama yang mereka anut adalah yang paling baik dan benar,” ujarnya.

Menag berpesan, Aceh sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi beragama harus mampu menyebarkannya untuk daerah lain di Indonesia.

“Untuk Aceh masalah kerukunan sudah  selesai, tapi harus pada tingkat menyebarkan ke luar. Waktu saya kecil tidak ada pergesekan umat beragama,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh Dr H Iqbal S.Ag M.Ag menyampaikan ucapan terima kasih atas kunjungan Menag ke Aceh.

“Kita senang Pak Menteri dapat bersilaturrahmi ke Aceh. Ini bukan kunjungan biasa tapi juga dalam rangka saweu gampong. Pak Menteri merupakan salah satu putra Aceh yang membanggakan,” katanya.

Iqbal mengatakan, jalinan kerukunan antar umat beragama di Aceh, sama sekali tidak terganggu.

” Kerukunan selalu berjalan sangat baik, juga toleransi sesama umat beragama. Juga di masa konflik, kerukunan antar umat beragama sangat terjaga,” kata Iqbal.

Ia mengatakan, jika muncul isu adanya gesekan, maka hal itu dapat diselesaikan melalui musyawarah.

“Pergesekan internal umat beragama barangkali ada. Dan ini tak ada masalah, cukup didialogkan sehingga kerukunan umat di Aceh berjalan baik. Ke depan kerukunan di Aceh, Insya Allah terus berjalan baik,” kata Iqbal.

Selain itu, kata Iqbal, Kemenag Aceh giat menyebarkan moderasi beragama di beragam aktifitas dalam masyarakat.

Ia berharap kunjungan tersebut dapat memotivasi para ASN dalam lingkungan Kanwil Kemenag Aceh untuk terus berbenah dalam memberikan layanan kepada masyarakat.

“Pak Menteri berpesan agar para ASN bekerja dengan baik. Menjadi ASN merupakan tugas mulia karena kita mengemban tugas yang berat guna menjamin kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Iqbal.[*]

Komentar