Jakarta—Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam mengatakan film ‘Pengkhianatan G30S’ adalah satu dari sekian banyak propaganda rezim Orde Baru untuk mendiskreditkan Partai Komunis Indonesia.

“Masih ada propaganda selain film,” kata Asvi saat dihubungi Tempo, Kamis (27/9). Cara pembusukan terhadap PKI lainnya, dengan museum pembantaian dan melalui buku-buku sejarah.

Museum yang dimaksud Asvi, semisal museum di Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Di Lapangan Peringatan Lubang Buaya yang dibangun tahun 1993, berdiri Monumen Pancasila, sumur tempat para korban dibuang, sampai dibikinkan dioramanya. Sementara buku-buku sejarah memuat informasi yang tak berimbang tentang PKI.

“Pemerintah Orde Baru ingin melegitimasi rezim yang didominasi militer,” ujar Asvi. Bedirinya museum di Lubang Buaya itu, lanjut dia, merupakan jawaban Orde Baru atas gerakan para ekstrem kiri.

Asvi menilai, Orde Baru berhasil menanamkan stigma negatif kepada PKI. Buktinya, selama puluhan tahun masykarakat ‘ketakutan’ ketika mendengar segala sesuatu yang berkaitan dengan PKI. »Mau mantu saja bisa batal kalau calonnya ada ‘bau’ PKI-nya,” ujarnya.

Dia melanjutkan, semestinya pemerintah memberikan pemulihan kepada mereka yang telah terstigma negatif tadi. Atau, Asvi menambahkan, mereka yang dirugikan lantaran stigma tersebut mengajukan gugatan hukum supaya hak-haknya dipulihkan.

Contohnya, kata dia, seorang mantan penari dan penyanyi istana, Nani Nurani yang mengajukan gugatan kepada pemerintah melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Ia dihukum penjara selama 7 tahun tanpa proses persidangan lantaran pernah tampil sekali di Istana Cipanas dalam acara ulang tahun PKI. Setelah bebas, Nani harus menjalani wajib lapor dan tidak mendapatkan KTP seumur hidup. »Mestinya pemerintah membuat rekonsiliasi untuk memulihkan hak-hak mereka,” kata Asvi.[tempo]

Komentar