images 1
Dolce & Gabbana. Foto: Istimewa

Rumah mode asal Milan, Italia, Dolce & Gabbana (D&G) mengajukan gugatan pencemaran nama baik kepada dua blogger kecantikan Amerika Serikat (AS) di pengadilan Italia dan menuntut lebih dari US$600 juta atau sekitar Rp8 triliun.

Keduanya mengunggah komentar bahwa Dolce & Gabbana dianggap anti-Asia yang dikaitkan dengan salah satu desainer mereka, yaitu Tony Liu dikutip AP, Minggu (7/3).

Gugatan itu diajukan ke pengadilan sipil Milan pada 2019 tetapi baru diketahui publik pekan ini ketika para blogger mengunggah tuntutan itu di akun Instagram mereka.

“Kasus ini adalah cara untuk mencoba membungkam kampanye Diet Prada dan membungkam Tony Liu dan Lindsay Schuyler secara pribadi,” ungkap Direktur Fashion Law Institute dari Fordham Law School Susan Scafidi.

Menurut AP, pengacara rumah mode Dolce & Gabbana menolak untuk mengomentari kasus tersebut. Kasus yang menyeret Dolce & Gabbana terjadi pada 2018.

Saat itu, mereka menghadapi boikot dari beberapa negara di Asia setelah kemarahan atas video yang beredar berisi kesensitifan budaya yang mempromosikan pertunjukan di landasan pacu utama di Shanghai, China.

Pertunjukan dibatalkan sebagai reaksi balik, termasuk pengecer yang menarik barang dagangan Dolce & Gabbana.

Desainer Domenico Dolce dan Stefano Gabbana awalnya mengatakan bahwa akun Instagram Gabbana telah diretas. Keduanya kemudian muncul dalam video meminta maaf kepada masyarakat China.

Scafidi berpendapat bahwa Dolce & Gabbana mencari 450 juta euro yang dihabiskan untuk memulihkan citra merek sejak 2018.

Sejak go public, Diet Prada, yang memiliki lebih dari 2,5 juta pengikut Instagram, telah mengumpulkan lebih dari U$38.000 untuk pembelaannya.

Dalam sebuah pernyataan, Liu dan Schuyler mengatakan mereka tidak akan mengizinkan platform mereka, yang juga vokal tentang gerakan #MeToo, Black Lives Matter, dan serangan baru-baru ini terhadap orang Asia di AS dibungkam oleh tuntutan hukum.

“Diet Prada akan terus menjadi platform untuk mengangkat masalah krusial ini,” kata Liu.

 

Sumber: CNN Indonesia

Komentar