Para Penantang Samsul




Tiga kandidat siap menantang Samsul Rizal dalam pemilihan Rektor Unsyiah kali ini. Untuk sebuah pengabdian atau sekedar memburu materi dan popularitas?

Untuk memeluskan langkah ke kursi Rektor Unsyiah, Dr Syahrul mengumpulkan para tokoh Aceh, baik dari kalangan akademisi maupun politisi. Di antaranya, mantan Gubernur Aceh Syamsuddin Mahmud, mantan Sekda Aceh Tantawi Ishak, mantan Ketua DPRA Muhammad Yus, Rektor UIN Ar-Raniry Farid Wajidi, Ketua DPD PDI-P Karimun Usman, dan sejumlah anggota DPRA seperti Abdurahman Ahmad, Ibrahim dan Tanwir Mahdi.

Sahrul menggelar acara di Ballroom Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Senin (16/10/2017). Dalam acara itu, ia penyampaian rencana pencalonannya sebagai Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) periode 2018-2022.

“Kami sadar, tak mungkin sebuah universitas itu akan berjalan sendiri tanpa ada suport dari semua elemen, terutama para tokoh akademik dan politik,” ujar Syahrul dalam sambutannya.
Dalam acara itu, ia juga menyampaikan sejumlah janji jika terpilih menjadi Rektor Unsyiah nantinya. “Kalau saya terpilih menjadi rektor, maka Unsyiah ke depan menjadi universitas terkenal dan hebat, baik untuk tingkat Indonesia, Asean maupun dunia,” katanya.

Untuk ke arah sana, menurut mantan dekan Fakultas Kedokteran Unsyiah dua periode itu, semua harus mengenal lebih dekat terhadap permasalah yang dihadapi sekarang ini, terutama dalam pelaksanaan dan penerapan Tridharma Perguruan Tinggi.

Baca: Berebut Kursi Rektor Unsyiah

“Kita harus mengenali masalah terlebih dahulu, karena Tridharma merupakan tugas pokok dan fungsi utama sebuah perguruan tinggi yang meliputi penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” ujar dia pada acara yang dihadiri tokoh pendidikan dan guru besar Unsyiah tersebut.

Aspek pendidikan, menurut dia, percepatan, pemerataan dan peningkatan kualitas SDM perlu segera dilakukan pembenahan secara sistematis dan progresif untuk seluruh program studi yang berjumlah 131 program.

Pria kelahiran 1962 ini menambahkan, Unsyiah saat ini menghadapi problema SDM yang tidak disadarinya. Pada usianya 58 tahun, jumlah guru besar 48 orang, doktor (S3) 486 orang dari total 1.502 dosen yang melaksanakan proses pendidikan bagi 25 ribu mahasiswa.

Dalam kondisi itu, menurut dia, SDM Unsyiah masih rendah, sehingga perlu pemerataan guru besar dan doktor di setiap prodi, sehingga perguruan tinggi yang menjadi ‘jantung hati rakyat Aceh’ bisa berkembang pesat.




Kemudian, dari aspek dharma penelitian dan pengabdian masyarakat harus segera dibenahi. “Ini dikarenakan posisi Unsyiah menurut Klaster Dikti masih berada di urutanm papan bawah, terlepas dari parameter apapun yang dipakai,” katanya.

Syahrul berpendapat, untuk dharma penelitian program yang dapat dilaksanakan misalnya setiap guru besar yang dibantu oleh beberapa asisten (dosen lulusan S2 dan S3 diwajibkan memimpin proyek penelitian setiap tahun minimal senilai Rp1 miliar.

Baca: Jejak Rektor dari Masa ke Masa

“Langkah dan cara seperti ini sangat berguna dalam rangka mempersiapkan kawan-kawan S3 untuk cepat menjadi guru besar. Ini tugas rektor yang harus dilaksanakan setiap tahun dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan daya saing Unsyiah dengan perguruan tinggi lain di Indonesia, Asean dan dunia,” katanya.

Syahrul sendiri maju menjadi rektor setelah mengundurkan diri dari manajemen RSU Meuraksa pada medio April 2017. Mundurnya Syahrul juga menyisakan sejumlah masalah di tubuh RS milik Pemko Banda Aceh itu.

RS yang telah mendapat akreditasi “paripurna” dari Komite Akreditasi Rumah Sakit pada 31 Maret 2017, menunggak hutang kepada pihak ketiga sebesar Rp49 miliar, termasuk tunggakan pembelian obat sekitar Rp8 miliar. Kala itu, menurut sumber Pikiran Merdeka, karena alasan tersebut pula Syahrul buru-buru mundur dari jabatannya.

Sejak saat itu, sederet masalah mengikuti RS Meuraksa. Bahkan, pernah kehabisan stok obat dan menunggak hingga Rp20 miliar kepda distributor obat. Hingga kini, kejadian menunggaknya hutang ke pihak ketiga yang mencapai Rp49 miliar itu diketahui tengah diselidiki oleh Polda Aceh dan Kejaksaaan Tinggi Aceh.

Setelah kembali ke kampus, Syahrul kini ingin menjadi orang nomor satu di Unsyiah. Ia siap menjadi penantang kuat rektor petahana, Samsul Rizal. Pun tersiar kabar, ia disokong kekuatan politik. Bahkan, deklarasi Rektor Unsyiah dilakukan di hotel berbintang layaknya calon kepala daerah. Hal ini juga baru pertama kali terjadi di Aceh. Syahrul yang juga pernah menjabati Dirut RSUZA disebut-sebut mempunyai kekuatan finansial yang cukup kuat.

Sayangnya, Samsul yang dikonfirmasi ulang Pikiran Merdeka pada Sabtu, 25 November lalu, tak bersedia menjawab panggilan telepon. Ia menolak panggilan masuk. Begitu pula pesan singkat yang dikirimkan, tetap saja tak direspon Syahrul.

Calon lainnya, Dr Muhammad Adam. Ia kini menjabat Asisten Direktur II Pascasarjana Unsyiah juga sebagai pengajar di Fakultas Ekonomi. Putra Meuredu, Pidie Jaya yang lahir pada 17 Juni 1962 ini juga siap bersaing dengan petahana.




Pria yang lulus dari Universitas Syiah Kuala dengan gelar Bachelor of Economics pada tahun 1987 tersebut, pada Mei 2013 lalu telah menyelesaikan gelar doktornya dari Universitas Padjadjaran. Sebelumnya, Muhammad Adam menyelesaikan gelar MBA di bidang Manajemen dan Bisnis di Universitas Florida Tengah, Amerika Serikat pada Desember 1994.

Calon berikutnya adalah Wakil Dekan III Fakultas Pertanian Unsyiah, Dr Syafruddin SP MP. Pria kelahiran Aceh Selatan pada 6 Januari 1968 ini menyelesaikan program sarjana pada tahun 1994 di Agronomy Department of Faculty of Agriculture, Universitas Syiah Kuala.

Ia lalu melanjutkan pendidikan magister pada tahun 1998 dan gelar magister di bidang pertanian dicapai pada tahun 2000 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada tahun 2007, ia melanjutkan program Doktor di University of Natural Resource and Applied Life Science (BOKU University) Wina, Austria. Kemudian ia menyelesaikan studinya di tahun 2010 di Intitute of Soil Science.
Kepada Pikiran Merdeka, ia mengaku maju sebagai calon rektor karena mempunyai visi besar untuk membawa Unsyiah menjadi kampus terbaik di Asia dalam empat tahun ke depan. “Kita tidak ingin muluk-muluk, kalau untuk mencapai world class kan susah,” aku Syafruddin, Sabtu, 25 November 2017.

Selain itu, ia berjanji akan mempertahankan dan melanjutkan apa yang sudah baik dari pencapaian selama ini. Seperti akreditasi, fasilitas dan rujukan kampus lain.
“Kita juga ingin meningkatkan kualitas mahasiswa dan lulusan Unsyiah dari sisi kemampuan bahasa Inggris. Selama ini sangat disayangkan, banyak beasiswa ke luar negeri dari berbagai lembaga tak bisa diambil karena kendala bahasa,” papar dia.

Bicara soal peluang, Syafruddin menolak membahasnya. Diakui Syafruddin, peluang menjadi rektor tetap terbuka bagi siapapun. “Biarkan seperti air mengalir. Jika Allah berkehendak, maka siapa yang bisa melawannya,” pungkas Syafruddin.[]

get freebies picture

Reply