Enam Kecamatan Setuju Pemindahan Ibukota Singkil ke Rimo




PM, Aceh Singkil – Isu pemindahan ibukota kabupaten Aceh Singkil ke kawasan Rimo, kecamatan Gunung Meriah, belakangan kembali mencuat dan menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat dan di media sosial.

Hebohnya isu pemindahan tersebut pasca pernyataan Wakil Ketua DPR Aceh Drs.Sulaiman Abda beberapa waktu lalu, saat menanggapi banjir yang kerap terjadi di Singkil. Tak ayal, hal itu menjadi perbincangan di jejaringan sosial media, seperti Facebook, Grup Washaap, Intagram bahkan menjadi perbincangan di warung kopi.

Sejak wacana pemindahan ibukota itu mencuat, sebagian masyarakat dari kecamatan Singkil mengecam pernyataan Sulaiman Abda. Menurut mereka, pernyataan itu sangat melukai hati rakyat, karena hal itu dinilai bukan solusi terbaik. Kecaman itu terus mengalir dari berbagai kalangan masyarakat hingga mahasiswa.

Sebaliknya, sebagian masyarakat dari wilayah Gunung Meriah, Simpang Kanan, Singkohor, Kotabaru, Danau Paris dan Suro, setuju dengan pernyataan Wakil Ketua DPR Aceh itu dengan alasan Banjir.

Helmy Bracan, warga desa Lae Butar, Kecamatan Gunung Meriah, menyatakan setuju dengan wacana pemindahan ibukota. Alasannya, kata dia, Rimo adalah tempat yang sangat srategis dengan artian berada di tengah-tengah dan jumlah penduduknya terbanyak. “Rimo juga tidak rawan banjir dan didukung dengan penduduk yang majemuk,” ujarnya.

Selain itu, pemindahan ibukota juga diamini oleh Abdul Berutu, warga Simpang Kanan. Ia mengatakan, mengingat kota Singkil sudah tidak layak lagi dijadikan sebagai ibukota kabupaten dilihat dari aspek geografis yang selalu menjadi langganan banjir dan menghambat pelayanan publik serta banyak merugikan masyarakat.

Selain itu, banyaknya menguras anggaran dan kemudian dari segi sosiologis menghambat perkembangan masyarakat Aceh Singkil, karena setiap waktu selalu dihantui ketakutan akan banjir.

“Saya sangat setuju. Sudah selayaknya dilakukan pemindahan,” tegasnya.

Abdul menambahkan, Singkil hanya bisa diberdayakan dalam bidang perikanan dan Kelautan (Kemaritiman) bukan pusat pemerintah, apalagi ibukota kabupaten. Segala aspek penunjang kelancaran pelayanan publik pupus akibat banjir yang selalu datang apabila musim hujan melanda Aceh tenggara (Hulu Lae Soraya) dan pakpak bharat sumut (Hulu Lae Cinendang).

“Artinya singkil bisa di kembangkan hanya dibidang kemaritiman langkah cepat dan tegas harus dilakukan pemerintah, hal ini bukan untuk mendiskreditkan suatu wilayah atau daerah tertentu namun demi kebaikan dan perubahan Aceh singkil,” katanya.




Sementara Jirin Capah, warga Gunung Meriah menerangkan sudah selayaknya ibukota di pindahkan, bukan bermaksud mengkerdilkan suatu wilayah namun untuk kemaslahan bersama dan tidak ada kesenjangan sosial di Kabupaten Aceh Singkil.

“Enam kecamatan seperti Gunung Meriah, Sp.Kanan, Danau Paris, Suro, Singkohor dan Kotabaharu sangat setuju mengingat jauhnya ke Ibukota, namun yang terpenting adalah menghindari dari bencana banjir sehingga mengganggu pemerintah setiap terjadi banjir,” kata Jirin, mantan Ketua Himpunan mahasiswa Dan Pemuda Aceh Singkil (HIMAPAS).

Dukungan terus mengalir kali ini dari ketua umum Ikatan Pemuda Mahasiswa Kotabaharu (Ipmakob) Jimi Berutu mengatakan, pemindahan ibu kota kabupaten Aceh Singkil bukan sesuatu yang diharamkan dan pihak sepakat pemindahan ibukota Aceh Singkil ke Gunung Meriah.

“Karena Singkil dinilai sudah tidak layak lagi disebut kota, dari tahun ke tahun tidak ada perkembangan seperti kota- kota lain di Aceh,” ujarnya.

Sementara Zakirun Pohan, salah tokoh Gunung Meriah mengungkapkan, isu pemindahan ibu kota Aceh Singkil ke Rimo kurang tepat, namun yang lebih tepat adalah di upayakan dan dipersiapkan menjadi ibu kota Kabupaten baru sehingga permasalahan ketertinggalan pembangunan dan tingginya esensitas kebanjiran segera dapat diatasi.()

get freebies picture

One Response - Add Comment

Reply