Teuku Kemal Fasya: Kerja Berat Menjaring Pemilih




Optimisme yang lahir dari kemunculan partai lokal baru juga dibarengi sejumlah tantangan. Pengamat Sosial Politik Aceh, Teuku Kemal Fasya menilai, semangat politik dari Parlok belum beriringan dengan antusiasme masyarakat Aceh.

“Yang terlihat, daya pukau masyarakat terhadap Parlok juga rupanya tidak sebesar saat pertama kali muncul. Problem pertama, tidak ada yang menjadi figur intelektual yang kemudian mampu memberi daya persuasi kepada publik bahwa mereka adalah salah satu harapan yang penting,” katanya kepada Pikiran Merdeka, Sabtu (7/10) pekan lalu.

Menurut Kemal, semua Parlok yang muncul di Aceh belum memiliki visi-misi yang jelas. Terlebih pada partai yang di dalamnya terdapat beberapa anggota yang pernah duduk di partai nasional. “Aspek kebaruan dan perbedaannya apa? Inilah problem lain dari kemunculan Parlok. Irisannya harus jelas, partai lokal seharusnya punya karakter yang kuat,” tegas Kemal.

Alih-alih memberikan daya pukau, ia khawatir partai yang muncul seakan hanya jadi instrumen pelengkap di Pemilu nanti.

Meski tak terlalu optimis, Kemal menyebutkan, ada tugas penting yang perlu dikerjakan oleh Parlok di Aceh. Salah satunya ialah meyakinkan masyarakat bahwa partai lokal hadir sebagai amanat dari perdamaian Aceh. Kemudian, kehadiran partai lokal adalah untuk keberlangsungan demokrasi lokal di Aceh.

“Tapi sampai sekarang sepertinya itu belum terjadi, Partai Aceh saya lihat hanya mengikuti pola oligarki dari Parnas, gagal menjadi antitesa. PNA yang semula diharapkan mampu, malah terjebak dalam problem internal partainya. Ini semua harus diatasi secepatnya, kalau tidak mau tergerus nanti,” kata Kemal.

Tanggapan lainnya disampaikan peneliti Aceh Institute, Rizkika Lena Darwin. Menurutnya, semangat masyarakat memilih partai lokal pada awalnya karena jenuh dengan citra partai nasional yang dianggap belum mampu mewujudkan kesejahteraan di Aceh.

“Harapan masyarakat bahwa partai lokal akan membawa warna dalam hal kebijakan yang pro pada kesejahteraan Aceh pasca-damai. Tentu dengan ciri khas kelokalannya. Partai lokal di Aceh masih mempunyai peluang yang besar selama masih konsen memperjuangakan aspirasi masyarakat Aceh,” kata Rizkika, Sabtu pekan lalu.

Secara umum, dalam menghadapi Pemilu tahun 2019, lanjut Rizkika, Parlok harus menyiapkan program yang pro rakyat dan rasional. Selain itu, kapasitas dari calon anggota legislatif perlu ditingkatkan.




“Perlu komitmen untuk partai yang bersih dan antikorupsi. Secara khusus cara menarasikan dan merasionalkan program yang sesuai dengan warna dan visi masing-masing partai, akan sangat membantu menyederhanakan pilihan masyarakat. Selanjutnya perlu juga partai lokal menggunakan mobilisasi voter dengan slogan kampanye yang kontekstual sesuai dengan kebutuhan daerah pemilihan,” jelasnya.[]

get freebies picture

Reply